Kuliah yang Nggak Pernah Aku Rencanakan

Topi wisuda beckground awan biru

Di suatu hari, di masa pengangguranku — atau mungkin lebih tepatnya semi-pengangguranku — aku sedang menikmati siang yang tenang seperti biasa. Menonton anime ongoing, tentunya.

Tidak seperti biasanya, hari itu ada temanku yang datang ke rumah. Bisa dibilang dia cukup dekat denganku saat masa SMK. Sebetulnya aku juga kurang tahu keperluan dia datang apa. Tapi ternyata dia mulai tanya-tanya soal coding.

Waktu SMK, aku memang lumayan dikenal sebagai orang yang bisa komputer. Dari situlah kami mulai ngobrol tentang perkodingan, lalu merambat ke hal-hal lain.

Singkat cerita, obrolan kami sampai ke pembahasan perkuliahan.

Saat itu aku sendiri belum kuliah. Ada banyak alasan tertentu yang membuatku belum melanjutkan. Jadi ketika mendengar cerita tentang dunia kuliah, sebagai orang yang benar-benar tidak tahu apa-apa tentang perkuliahan, aku merasa sangat excited dan tertarik.

Akhirnya, obrolan tentang kuliah dan coding itu berlanjut sampai petang. Setelah itu, dia pulang.

Selepas dia pulang, aku jatuh ke dalam kontemplasi yang cukup panjang. Aku mulai bertanya pada diri sendiri: should I kuliah or not?

Di dalam diriku saat itu ada banyak kontradiksi. Perdebatan antar diri sendiri itu berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sampai akhirnya, di suatu titik, aku membuat keputusan untuk lanjut berkuliah.

“Kenapa sih susah amat mikir lanjut kuliah doang? Wkwk.”

Mungkin sebagian orang akan berpikir seperti itu. Tapi dalam posisiku yang sudah gap year dua tahun, keputusan ini ternyata cukup berat. Tidak semudah kelihatannya. Walaupun pada akhirnya, aku bisa juga mengambil keputusan itu.

Setelah itu, aku mulai mencari kampus. Salah satu yang kepikiran adalah kampus temanku tadi. Kampus yang menurutku saat itu “biasa aja”.

Di sisi lain, aku juga tidak bisa ikut SNMPTN atau SBMPTN waktu itu. Alasannya cukup lucu: NISN-ku saat SMK ternyata tidak terdaftar. Memang sekolah ini agak ajaib wkwk.

Akhirnya, aku menghubungi temanku yang kemarin datang ke rumah. Dari situ, aku memutuskan untuk survei langsung ke kampusnya. Setelah membuat janji, aku pun jadi berangkat ke sana.

Ketika sampai di kampus tersebut, hal pertama yang kurasakan adalah rasa kagum.

Buat sebagian orang mungkin kampus itu biasa saja. Tapi buatku saat itu, gedungnya terasa besar dan bagus. Maklum, aku orang desa banget. Benar-benar dari pedalaman. Sekolahku sebelumnya juga belum pernah punya bangunan yang semewah atau sebagus itu.

Jadi ketika sampai di sana, rasanya benar-benar, “woah.”

Setelah itu aku berkeliling dan melihat-lihat. Entah kenapa, saat itu keinginan di hatiku untuk kuliah semakin kuat. Semakin membara. Hahaha.

Belum selesai sampai di situ, setelah berkeliling aku mampir ke salah satu tempat di kampus tersebut: perpustakaan pusat.

Ini menarik banget buatku. Itu pertama kalinya aku masuk ke perpustakaan sebesar itu. Ada banyak buku di sana, dan kebetulan saat itu aku sedang suka-sukanya membaca buku.

Akhirnya, aku mengambil satu buku dan membaca cukup lama di sana sebelum pulang. Sampai akhirnya hari mulai sore, perpustakaan mau tutup, dan aku pun pulang ke rumah dengan aman.

Selepas kunjungan itu, aku mulai serius.

Aku akhirnya ngomong ke orang rumah tentang rencanaku untuk lanjut kuliah di sana. Dan ternyata, rencana itu disetujui.

Rasanya senang banget. Karena sebelumnya aku benar-benar orang yang tidak punya keinginan untuk kuliah. Tapi tiba-tiba, entah bagaimana, aku justru daftar kuliah dan benar-benar jadi. Ada rasa tidak percaya juga.

Setelah itu, aku mendaftar secara offline. Dan tentu saja, setelah selesai daftar, aku tidak lupa mampir lagi ke perpustakaan itu. Baca buku sebentar, lalu pulang.

Hari demi hari berlalu. Akhirnya sampai juga di hari pertama aku masuk kuliah.

Kegiatan paling awal tentu saja: SAPA MABA.

Jujur, saat itu aku nervous banget. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu banyak orang setelah hampir tiga tahun hidup di masa karantina COVID, di mana interaksiku dengan banyak orang sangat terbatas.

Tapi akhirnya aku mulai dengan berani, walaupun tetap saja cukup shock melihat orang sebanyak itu. Wkwk.

Di hari pertama SAPA MABA, aku bertemu banyak orang yang semuanya tidak aku kenal. Rasanya aneh, tapi juga seru. Di tengah keramaian itu, entah kenapa jiwa berkuliahku seperti ter-boost lagi.

Sampai di hari kedua, aku mulai mengenal beberapa orang. Dan ternyata, banyak juga yang gap year seperti aku.

Jujur, sebelum bertemu mereka, aku sempat minder. Aku pikir cuma aku yang gap year, sementara yang lain pasti baru lulus SMA semua. Ternyata tidak juga.

Aku bertemu orang-orang baru dari berbagai macam background yang menarik. Bahkan ada yang gap year-nya lebih lama dariku.

Dari situ aku sadar, terkadang kita memang terlalu overthinking. Hal-hal yang kita pikir berat, ternyata bisa jadi lebih santai dari yang kita bayangkan. Wkwk.

Setelah mulai mengenal orang-orang itu, rasa nervous-ku perlahan hilang. Dari sana, dimulailah hari-hari perkuliahan yang menarik.

Terkadang, alasan untuk memulai kuliah — atau memulai hal baru apa pun — tidak harus selalu besar.

Tidak semua hal yang kita lakukan hari ini adalah sesuatu yang sudah kita rencanakan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Kadang, semuanya bisa bermula dari hal yang sangat sederhana.

Dalam kasusku, sesederhana melihat gedung kampus yang menurutku bagus dan keren. Sesederhana merasa, “wah, ini menarik juga.”

Tidak ada pesan serius tentang betapa pentingnya pendidikan di sini.

Cuma, menurutku, kuliah layak dicoba minimal sekali seumur hidup. Wkwk.

Dan jangan minder walaupun kamu seorang gap year kamu tetep layak berkuliah horaa.

Ini pesan dari orang yang dulu anti kuliah saat masa SMK.